Terjerat Hutang Karena Janji Iman
Akhir Maret 2010 yang lalu, Dr. Morris Cerullo datang ke Indonesia dan berkeliling dari Jakarta ke Bandung, ke Semarang, Jogya dan Surabaya. Saya mendengar mereka yang datang ke dalam kebaktian-kebaktian di berbagai kota itu rata-rata merasa kecewa karena beliau tidak banyak berbicara tetapi lebih kepada pengumpulan dana saja. Konon ini merupakan kunjungannya yang terakhir ke Indonesia. Memang sudah dari sejak dahulu Morris Cerullo selalu meminta dana yang besar-besar dari pendengarnya, dengan janji-janji tinggi untuk menerima pengurapan dari padanya. Salah satu cara adalah dengan meminta orang-orang yang tidak membawa uang untuk memberi dengan janji iman.
Banyak orang mau menguji iman mereka sendiri dengan menuliskan di atas secarik kertas suatu jumlah dana yang sebenarnya melampaui kesanggupan mereka sendiri untuk membayarnya. Karena himbauan iman yang menggebu-gebu, mereka merasa yakin bahwa berkat Tuhan akan datang berlimpah-limpah karena mereka memberi itu “untuk Tuhan”.
Dalam kenyataannya, banyak orang terjerat karena janji iman itu, karena mereka berjanji di depan Tuhan untuk mendukung pekerjaan Tuhan melalui Morris Cerullo, yaitu hamba-Nya yang diurapi untuk menjangkau jiwa-jiwa di seluruh dunia.
Sekitar tahun 1993 saya berjumpa dengan Dr. T seorang dokter wanita tapi juga hamba Tuhan, di lift sebuah restoran yang membawa kami ke lantai atas, tempat sebuah pertemuan rohani akan diadakan. Beliau bertanya kepada saya, mengenai perkara janji iman ini.
“Pak Andereas, saya ingin bertanya tentang janji iman, apakah bila seseorang melakukan janji iman itu berarti ia membuat hutang?”
“Benar ibu, janji tetap janji, harus digenapi, apalagi karena janji iman itu ditujukan kepada Tuhan. Bagaimanapun harus dibayar, kalau belum terbayar, itu terhitung sebagai hutang, yakni hutang kepada Tuhan. Dan ibu terkena kutuk hutang! Tapi kenapa ibu bertanya begitu?”
“Di Amerika saya menghadiri konferensi rohani dari Dr. Morris Cerullo, dan ketika ditantang untuk memberi dengan janji iman saya telah membuat janji untuk memberi sekian ribu dollar untuk pelayanan beliau. Tapi sekarang ternyata beberapa bulan ini justru penghasilan saya amat merosot. Apa yang harus saya lakukan?”
“Ibu harus membuat komitmen dengan Tuhan, yaitu untuk mencicilnya setiap bulan, jangan tunggu sampai berkat besar datang. Jadi setiap kali ibu menerima uang, darimana-pun asalnya, sisihkan 10% untuk persepuluhan bagi Tuhan, lalu 10% lagi untuk membayar janji iman itu. Menyisihkan 10% untuk membayar janji iman itu adalah tindakan iman yang menunjukkan itikad bahwa ibu mau membayar hutang itu, sambil meminta Tuhan yang menolong sehingga ibu dapat melunasinya.” Setelah beberapa bulan lewat, saya jumpa lagi dengan beliau dan ia sudah berhasil melunasi “janji iman” nya dan sekarang penghasilannya menjadi normal lagi.
Sekarang ini saya merasa pasti bahwa banyak orang yang telah mengalami nasib yang sama, Anda telah membuat janji iman terhadap Morris Cerullo atau terhadap gereja Anda sendiri, karena ajaran tentang janji iman ini telah ditiru oleh banyak gereja yang hendak mengumpulkan dana pembangunan bagi gerejanya masing-masing.
Adalah terlebih bijaksana kalau Anda tidak terlalu emosional dalam menanggapi seruan memberi dengan janji iman seperti itu. Sebaliknya biasakan untuk mendengar suara Tuhan dalam setiap langkah Anda, termasuk perkara memberi untuk Tuhan. Apa memang Anda ditugaskan oleh Dia untuk berbuat ini dan itu atau tidak. Ingat pada dasarnya orang percaya harus dipimpin oleh Roh. Bila Anda main bertindak tanpa di suruh Tuhan, betapa bagusnya-pun tindakan Anda itu tidak mempunyai nilai sedikitpun di mata Tuhan. Karena kita ini harus memenuhi prinsip:
Roma 11:36 Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama–lamanya! Amin.
Bila Anda bertindak sendiri, menurut inisiatif dan ambisi sendiri, maka itu berarti :
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh SAYA, dan kepada Dia: Bagi SAYA-lah kemuliaan sampai selama–lamanya!
Daging berurapan
Mohon jangan marah bila saya tidak terlalu setuju dengan caranya menggalang dana, seolah-olah saya hendak menjatuhkan namanya, sama sekali tidak. Tapi saya ungkapkan ini sekedar sebagai gambaran yang jelas bahwa hidup sebagai seorang yang diurapi Tuhan bukan hal yang selalu tepat menurut kehendak Tuhan. Kentara bahwa dia hidup di dalam kedagingan, daging yang berurapan! Yang dilakukannya akhir-akhir ini dengan berkeliling di Indonesia adalah terang-terangan menjual urapan terakhirnya dengan imbalan uang ratusan juta setiap orang.
Alkitab berkata justru yang diinginkan Tuhan adalah agar Anda menyalibkan diri Anda, menyangkal kedagingan Anda, biarkan Tuhan Yesus yang menjelma di dalam diri Anda sepenuh-Nya, nanti Tuhan yang Namanya Kristus (Yang Diurapi) itu yang akan menampakkan diri-Nya melalui hidup Anda. Allah Bapa sedang membuat kloning Yesus di dalam Anda! Anda sendiri tak usah berurapan, sebaliknya Anda wajib berada di gantungan kayu salib Anda! Tetapi Yesus yang di dalam Anda yang mengeluarkan urapan-Nya. Jangan sibuk mengumpulkan urapan-urapan bekas orang lain! Jangan Anda menirunya.
Dulu saya seperti itu juga, saya suka mengejar orang-orang berurapan seperti itu, saya sedot urapan mereka. Di dalam saya dahulu ada urapan Dr Chares Doss, Win Worley, Joe Poppell, Bill Subritzky, Le Covic, Morris Cerullo, Benny Hinn, dan yang terakhir Bill Hammond. Saya menjadi seorang yang amat berurapan dan tanpa sadar saya menjadi kedagingan, walaupun saya berusaha keras menyembunyikannya dengan tingkah laku yang selembut-lembutnya. Yang terakhir hati nurani saya terganggu karena lama-kelamaan terasa betul bahwa saya kesana kemari menawarkan urapan-urapan saya itu dan saya memperoleh uang banyak-banyak karenanya, walaupun saya tidak terang-terangan meminta uang atau memancing orang memberi uang kepada saya. Dalam masa sabbatical 11 bulan tahun 2004 saya dikoreksi oleh Roh Kudus, semua urapan itu dicabut oleh-Nya sama sekali. Dari situ saya mulai di “cuci otak”, bahkan pikiran-pikiran kedagingan saya di cabut dari kepala saya sampai terasa pusing terus-menerus selama 4 hari dan setelah pikiran saya ringan sekali, saya diajar menghormati kehadiran Tuhan Yesus, Roh Kudus dan Allah Bapa. Kemudian saya diajar berkomunikasi dengan Tuhan secara kontinu, hari demi hari. Sejak itu saya tak berani membuat keputusan-keputusan sendiri, tapi selalu bertanya apa mau Dia, baru saya melangkah berjalan bersama Dia. Sekarang walau lambat, urapan Dia mulai memancar, tak secepat yang dahulu, tapi mantap dan disertai damai sejahtera penuh di hati saya. Saya tidak sibuk membangkit-bangkit urapan di dalam diri saya tetapi sibuk mendengarkan sabda-Nya saja. Itulah rhema, dan di dalam rhema itu ada kuasa yang amat besar!
Bandung, 3 Mei 2010
Andereas Samudera
( Isi telah diubah sesuai dengan pengajaran Tuhan yang melarang seorang menghakimi baik hidupnya maupun pengajaran seorang hamba Tuhan. Hanya Tuhan yang berhak mengadili hamba-hambanya sendiri.)



Leave A Comment